4 Kesalahan Startup Dalam Menggunakan AI & Tips Menghindarinya
TL;DR: Keterangan Singkat
85% perusahaan mulai mengimplementasikan strategi dari AI, namun hanya 47%nya berhasil mendapatkan ROI
Identifikasi objektif Anda saat ingin menggunakan AI
Chatbot dan AI Agent berbeda fungsi
AI sudah dianggap sebagai shortcut menuju efisiensi, scale, dan pertumbuhan cepat. Namun di balik euforia tersebut, banyak startup justru terjebak dalam penggunaan AI yang keliru.
Alih-alih menjadi akselerator bisnis, AI sering kali hanya menjadi alat mahal yang tidak memberikan dampak signifikan. Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara startup mengimplementasikannya.
Menurut studi IBM, 85% perusahaan mulai mengimplementasikan strategi dari AI, namun hanya 47%nya berhasil mendapatkan ROI.
Pernyataan ini menjadi titik reflektif bagi bisnis agar tidak salah ambil langkah dalam mengimplementasikan atau menggunakan AI, banyak hal yang perlu dievaluasi untuk meminimalisir kerugian maupun eror.
Berikut ini adalah empat kesalahan paling umum yang sering dilakukan startup saat menggunakan AI, beserta pendekatan yang lebih realistis untuk menghindarinya.
1. Menggunakan AI Tanpa Tujuan Bisnis yang Jelas
Banyak startup mulai menggunakan AI karena alasan yang sangat sederhana: “kompetitor sudah pakai.” Akibatnya, AI diimplementasikan tanpa definisi masalah yang jelas. Selain faktor FOMO ini, penting bagi bisnis untuk memahami jenis serta tujuan penggunannya.
AI akhirnya hanya digunakan untuk:
Menjawab chat secara otomatis
Membuat konten secara massal
Mengotomatisasi proses yang sebenarnya belum rapi
AI memiliki fungsi dari sekedar membalas chat secara otomatis, yang sering kali bisnis salah kaprah—fitur sederhana ini sebenernya bisa didapatkan melalui chatbot, tapi akan berbeda hasilnya apabila bisnis menggunakan AI Agent. Berikut tabel sederhana untuk memahami tujuan chatbot vs AI Agent.
Tanpa tujuan bisnis yang spesifik, startup sulit mengukur apakah AI benar-benar memberikan dampak atau hanya menambah kompleksitas operasional.
Pendekatan yang lebih tepat:
Sebelum memilih tools atau model AI, startup perlu menjawab satu pertanyaan dasar: masalah bisnis apa yang ingin diselesaikan?
2. Menganggap AI Bisa Menggantikan Manusia Sepenuhnya
Kesalahan klasik lainnya adalah menganggap AI sebagai pengganti total peran manusia, terutama di area seperti customer service dan sales.
Pada praktiknya, AI memang unggul dalam tugas repetitif dan transaksional. Namun ketika digunakan untuk menangani kasus kompleks, sensitif, atau membutuhkan empati, AI sering kali gagal memenuhi ekspektasi pelanggan. Alih-alih meningkatkan pengalaman, penggunaan AI secara berlebihan justru dapat membuat interaksi terasa kaku dan tidak personal.
Pendekatan yang lebih tepat:
Model yang lebih realistis adalah pendekatan hybrid—kolaborasi antara AI dan manusia. AI menangani tugas awal seperti FAQ, kualifikasi lead, atau respons instan, sementara manusia fokus pada pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah yang kompleks. Tujuannya bukan menggantikan manusia, tetapi memperkuat peran mereka.
3. Mengimplementasikan AI Tanpa SOP Internal
Penggunaan AI tidak hanya sampai proses percakapan antar pembeli dengan bisnis. Setiap percakapan yang masuk adalah data berharga yang perlu dikelola—oleh maka itu penting untuk mengimplementasikan AI dengan SOP internal yang kuat agar tiap data yang masuk dari AI dapat Anda jaga riwayatnya, proses ini membutuhkan SOP internal yang solid.
Masalah yang sering muncul:
Data pelanggan tersebar atau tidak ter-capture
AI hanya berjalan sendiri tanpa adanya CRM
Tidak ada konteks histori interaksi
Akibatnya, bisnis tidak dapat memaksimalkan otomasi dari AInya, alih-alih hanya memanfaatkan chatbot sederhana untuk menjawab pesan masuk.
Pendekatan yang lebih tepat: Sebelum mengharapkan AI bekerja secara cerdas, startup perlu merapikan fondasi datanya. Integrasi data pelanggan, riwayat interaksi, dan sistem internal seperti CRM adalah syarat penting agar AI dapat memberikan output yang kontekstual dan bernilai.
4. Fokus pada Teknologi, Bukan Pengalaman Pelanggan
Pengalama pelanggan atau customer engagement harusnya menjadi objektif utama dari bisnis, bukan siapa yang paling terdepan dalam menggunakan AI paling canggih. Ingat kembali apa tujuan bisnis dan apakah relevan dengan objektifnya. Sebab, tidak semua otomasi dibutuhkan dan tidak setiap teknologi dapat menjawab kebutuhan bisnis.
Coba pikirkan bagaimana pengalaman pelanggan saat mereka berkomunikasi dengan bisnis Anda? Jika,
Pendekatan yang lebih tepat:
AI seharusnya bekerja di balik layar untuk meningkatkan kualitas pengalaman pelanggan. Jika AI membuat proses terasa lebih rumit, tidak natural, atau membingungkan, maka implementasinya perlu dievaluasi ulang seberapa pun canggih teknologinya.
Itu tadi 4 kesalahan umum yang dilakukan oleh startup.
AI Bukan Shortcut, Tapi Strategi Jangka Panjang
AI bukan solusi instan untuk semua masalah startup. Tanpa strategi yang matang, AI justru bisa menjadi beban biaya dan operasional.
Startup yang berhasil menggunakan AI bukan yang paling cepat mengadopsi, melainkan yang paling strategis dalam menggunakannya, memahami batasan teknologi, menempatkan AI pada konteks yang tepat, dan tetap memprioritaskan pengalaman manusia.
Pada akhirnya, AI yang efektif bukan yang paling pintar, tetapi yang paling relevan dengan kebutuhan bisnis dan pelanggan.
Startup auto naik level dengan SleekFlow di 2026
Khusus untuk startup, dapatkan penawaran menarik dengan join SleekFlow for Startup
Bagikan Artikel
