Daftar isi

Client Retention: Cara Mempertahankan Klien, Rumus Mengukurnya, dan Strategi yang Cocok untuk Bisnis di Indonesia

Terakhir diperbarui
Durasi
Ilustrasi Client Retention Cara Mempertahankan Klien, Rumus Mengukurnya, dan Strategi yang Cocok untuk Bisnis di Indonesia

TL;DR: Keterangan Singkat

  • Client retention adalah kemampuan bisnis mempertahankan klien agar tetap membeli, berlangganan, atau memperpanjang kontrak dalam periode tertentu. Konsepnya sama dengan customer retention, tetapi “klien” lazim dipakai di bisnis jasa dan B2B.
  • Retensi diukur dengan metrik yang menjawab pertanyaan berbeda, memakai jumlah klien di awal periode, di akhir periode, dan klien baru. Tanda klien akan pergi biasanya muncul bertahap, jadi perlu dipantau sebelum kontrak habis.
  • Strategi untuk bisnis jasa dan B2B meliputi onboarding terstruktur, satu pemilik account dengan cadangan, laporan dan review terjadwal, target waktu balas tertulis, penanganan komplain cepat, survei kepuasan, dan riwayat percakapan di sistem perusahaan.
  • Untuk retail dan B2C, retensi bertumpu pada follow-up setelah pembelian, pengingat beli ulang sesuai siklus produk, membership, pesan ulang tahun, rekomendasi personal, dan permintaan ulasan ke semua pelanggan, bukan hanya yang puas.
  • Komunikasi retensi di Indonesia perlu memperhatikan persetujuan pemrosesan data menurut UU PDP, opt-in dan template di WhatsApp, aturan penawaran dan penagihan POJK 22/2023 untuk jasa keuangan, serta imbauan KPK soal gratifikasi hari raya.

Sebuah agensi digital di Jakarta kehilangan klien terbesarnya di bulan ke-11 kontrak, padahal tidak ada masalah di hasil campaign-nya. 

Account manager yang memegang grup WhatsApp klien sudah resign tiga bulan sebelumnya, monthly report mulai terlambat, dan tidak ada yang sadar klien sudah minta proposal dari agensi lain. Tim baru tahu saat email “tidak memperpanjang kontrak” masuk.

Masalah seperti ini bisa terjadi bukan karena kualitas kerja, tapi di client retention yang tidak pernah dipantau. 

Artikel ini akan membantu Anda mengukur, memprediksi, dan mencegah klien pergi sebelum email seperti itu masuk.

Apa itu client retention?

Client retention adalah kemampuan bisnis mempertahankan klien agar tetap membeli, berlangganan, atau memperpanjang kontrak dalam periode tertentu.

Konsepnya sebenarnya sama dengan customer retention. Namun, perbedaannya ada di istilah, karena “klien” lazim dipakai di bisnis jasa dan B2B, sedangkan “pelanggan” lebih sering dipakai di retail.

Berbeda dengan akuisisi pelanggan yang fokus mencari klien baru, client retention fokus menjaga hubungan dengan klien yang sudah ada, dan ini juga tidak sama dengan repeat order yang hanya mencatat klien membeli lagi.

Bagaimana cara mengukur client retention?

Client retention bisa diukur dengan beberapa metrik, dan tiap metrik menjawab pertanyaan yang berbeda.

Metrik

Rumus

Contoh hitung (ilustratif)

Paling cocok untuk

Retention rate

((E - N) / S) x 100%

Awal 200 klien, 30 klien baru, akhir 190 klien: ((190 - 30) / 200) x 100% = 80%

Semua bisnis

Churn rate

(Klien yang hilang / klien di awal periode) x 100%

40 dari 200 klien berhenti: (40 / 200) x 100% = 20%

Semua bisnis

Repeat purchase rate

(Pelanggan yang membeli lebih dari sekali / total pelanggan) x 100%

280 dari 1.000 pelanggan: (280 / 1.000) x 100% = 28%

Retail dan B2C

Customer lifetime value (CLV)

Rata-rata nilai transaksi x frekuensi per tahun x lama hubungan (tahun)

Rp250.000 x 6 x 2 = Rp3.000.000

Retail dan jasa

Net revenue retention (NRR)

(Pendapatan berulang awal + ekspansi - kontraksi - churn) / pendapatan berulang awal x 100%

(Rp100 jt + Rp20 jt - Rp5 jt - Rp10 jt) / Rp100 jt x 100% = 105%

B2B berlangganan

Renewal rate

(Kontrak yang diperpanjang / kontrak yang jatuh tempo) x 100%

20 dari 25 kontrak: (20 / 25) x 100% = 80%

B2B dan jasa berkontrak

Keterangan: 

S = jumlah klien di awal periode

E = jumlah klien di akhir periode

N = klien baru yang masuk selama periode

Semua angka di tabel hanyalah ilustrasi untuk membantu memahami cara hitung, bukan benchmark industri.

Kapan klien paling mungkin pergi?

Beberapa klien tidak pergi secara tiba-tiba. Biasanya ada tanda-tanda kecil di tahap tertentu yang terlewat.

Tahap hubungan

Tanda risiko

Tindakan

Pemilik

Onboarding

Klien belum memakai produk atau belum membeli lagi, dan menanyakan hal yang sama berulang kali

Cek progres dan adakan sesi panduan dalam 30 hari pertama (contoh); rapikan materi untuk pertanyaan yang sering muncul

Account manager atau customer success

Masa rutin

Balasan melambat dan laporan sering telat

Tetapkan jadwal laporan yang tetap, lalu tanyakan langsung ke klien apakah ada yang perlu diperbaiki, misalnya lewat check-in sebulan sekali (contoh)

Account manager

Setelah komplain

Keluhan belum tuntas

Beri kabar progres secara berkala dan pastikan klien mengonfirmasi bahwa masalahnya selesai; untuk kasus berat, pakai alur escalation management

Tim support dan manajer

Pergantian PIC (di pihak klien atau di tim Anda)

Kontak baru tidak mengenal tim dan riwayatnya

Kirim ringkasan riwayat kerja sama dan adakan sesi perkenalan dalam 2 minggu pertama (contoh); pastikan serah terima internal tertulis

Account manager lama dan baru

Menjelang perpanjangan

Pemakaian turun, atau klien meminta proposal pembanding

Review hasil dan nilai kerja sama sekitar 90 hari sebelum kontrak berakhir (contoh), lalu tawarkan penyesuaian sesuai kebutuhan klien

Account manager dan pemilik bisnis

Win-back

Klien sudah berhenti

Tanyakan alasan berhenti, lalu hubungi lagi sekitar 3 sampai 6 bulan kemudian (contoh) dengan penawaran yang menjawab alasan itu

Sales atau pemilik bisnis

Strategi client retention untuk bisnis jasa dan B2B

Strategi client retention di bisnis jasa dan B2B pada dasarnya tentang konsistensi: klien tahu apa yang bisa diharapkan, dan tim tahu apa yang harus dikerjakan.

1. Onboarding terstruktur

Susun alur awal yang jelas, misalnya kick-off, target 30 hari pertama (contoh), dan jadwal check-in. Klien yang paham cara memanfaatkan layanan Anda akan lebih cepat merasakan hasilnya.

2. Satu pemilik account ditambah cadangan

Tunjuk satu account manager sebagai penanggung jawab dan satu orang lain yang paham riwayat klien. Dengan begitu, hubungan tidak terputus saat PIC resign atau cuti.

3. Laporan dan review terjadwal

Kirim laporan di tanggal yang tetap, lalu adakan review berkala, misalnya per kuartal (contoh), untuk membahas hasil dan kebutuhan baru. Jadwal yang konsisten membuat masalah bisa terlihat lebih awal.

4. Target waktu balas yang tertulis

Tetapkan jam kerja dan batas waktu balas, misalnya maksimal 1 jam kerja untuk pesan biasa (contoh). Tuliskan di kontrak atau panduan kerja sama supaya ekspektasi kedua pihak sama.

5. Penanganan komplain yang cepat

Akui keluhan, kabari progres, dan pastikan klien mengonfirmasi bahwa masalahnya selesai. Libatkan manajer kalau keluhan belum tuntas dalam batas waktu yang disepakati.

6. Survei kepuasan

Kirim survei singkat setelah milestone penting atau secara berkala, misalnya CSAT atau NPS. Yang lebih penting dari skornya adalah tindak lanjut ke klien yang memberi nilai rendah.

7. Riwayat percakapan sebagai milik perusahaan

Simpan percakapan, permintaan, dan komitmen ke klien di sistem perusahaan.. Jadi siapa pun yang meneruskan akun bisa langsung paham konteksnya.

Bagaimana dengan grup WhatsApp klien?
Di Indonesia, grup WhatsApp dengan klien sangat lazim dan memang praktis untuk koordinasi cepat. 

Masalahnya, kalau komitmen dan catatan penting hanya ada di grup atau di HP account manager, semuanya ikut hilang saat orangnya berpindah.

Jadi, pakai grup untuk koordinasi, tapi catat kesepakatan, jadwal, dan permintaan klien di sistem perusahaan. 

Sebagai informasi, WhatsApp Business API saat ini belum mendukung group chat, sehingga chat 1:1 bisa dikelola bersama oleh tim lewat inbox, sedangkan isi grup tetap perlu direkap ke sistem.

Strategi customer retention untuk retail dan layanan B2C

Di retail dan layanan B2C, pelanggan datang dan pergi lebih cepat, jadi retention bertumpu pada momen-momen kecil setelah pembelian.

1. Follow-up setelah pembelian

Follow-up pelanggan lewat WhatsApp beberapa hari setelah transaksi untuk memastikan produk atau layanan sudah sesuai harapan. Panduannya ada di artikel cara follow-up customer lewat WhatsApp.

2. Pengingat beli ulang sesuai siklus produk

Kirim pengingat di waktu yang pas, misalnya saat stok skincare atau kopi pelanggan diperkirakan hampir habis, untuk mendorong repeat order.

3. Membership

Beri alasan ke pelanggan untuk kembali membeli lewat poin, tingkatan member, atau harga khusus dengan loyalty program. 

4. Pesan ulang tahun

Ucapan sederhana, dengan atau tanpa promo kecil, membuat pelanggan merasa dikenal, bukan sekadar angka penjualan.

5. Rekomendasi personal

Tawarkan produk berdasarkan riwayat belanja pelanggan, bukan promo yang sama untuk semua orang.

6. Permintaan ulasan

Minta ulasan ke semua pelanggan, bukan hanya yang Anda perkirakan puas. Cara ini membuat ulasan lebih jujur, dan keluhan yang masuk bisa langsung Anda tangani sebelum pelanggan pergi.

Aturan yang perlu diperhatikan saat menjalankan komunikasi retensi di Indonesia

Follow-up, pengingat, dan penawaran ke klien memang bagian dari retention, tapi di Indonesia ada aturan yang perlu diperhatikan, khususnya menyangkut cara dan waktunya.

UU PDP: dasar pemrosesan data dan hak subjek data menarik persetujuan

Sebelum mengirim pesan, bisnis sebagai pengendali data wajib punya dasar pemrosesan data pribadi, salah satunya persetujuan dari pelanggan (Pasal 20 UU PDP). Pelanggan juga berhak menarik kembali persetujuan pemrosesan datanya (Pasal 9).

Meta: opt-in, template, dan kualitas nomor 

Untuk WhatsApp, pesan yang dimulai bisnis mewajibkan opt-in dari pelanggan, dan di luar jendela 24 jam harus memakai template yang sudah disetujui. Kalau banyak pesan Anda diblokir atau dilaporkan, kualitas nomor bisa turun.

Untuk jasa keuangan:

  • Penawaran lewat sarana komunikasi pribadi diatur di Pasal 39 ayat (1) sampai (4) POJK 22/2023, yang menggantikan POJK 6/2022 (sebelumnya Pasal 25). Penawaran lewat sarana komunikasi pribadi butuh persetujuan dari calon konsumen, dan persetujuan ini tidak boleh menjadi syarat memakai produk. Penawaran juga wajib dihentikan jika persetujuan ditarik.

  • Pemasaran melalui komunikasi pribadi hanya boleh dilakukan hari Senin sampai Sabtu di luar hari libur nasional, pukul 08.00–18.00 waktu setempat, kecuali atas persetujuan konsumen.

  • Untuk penagihan, pasal 62 ayat (2) POJK 22/2023 membatasi waktunya pada hari Senin sampai Sabtu, pukul 08.00–20.00.

Untuk B2B dengan instansi pemerintah dan BUMN:

  • SE KPK No. 2 Tahun 2026 meminta pegawai negeri dan penyelenggara negara menolak gratifikasi yang berkaitan dengan jabatan, termasuk bingkisan hari raya, dan mengimbau perusahaan tidak memberikannya. Untuk bisnis dengan klien instansi pemerintah dan BUMN, sebaiknya cukup kirim ucapan hari raya, bukan hampers

Informasi di bagian ini bukan nasihat hukum. Konsultasikan dengan penasihat hukum untuk kondisi bisnis Anda.

Bagaimana SleekFlow membantu menjaga hubungan klien tetap milik perusahaan?

Karena WhatsApp Business API belum mendukung group chat, alur berikut berpusat pada percakapan 1:1 yang tersimpan di sistem perusahaan yang didukung SleekFlow.

  1. Inbox bersama dengan pemilik klien yang jelas. Kumpulkan percakapan di inbox bersama dan tugaskan tiap klien ke agent atau tim tertentu. 

  2. Catatan internal dan riwayat percakapan. Tim bisa membuat catatan internal di inbox untuk menyimpan konteks, misalnya janji ke klien atau keluhan yang belum tuntas.

  3. Label untuk tahap hubungan klien. Beri label sesuai tahap, seperti onboarding, masa rutin, atau menjelang perpanjangan. SleekFlow sendiri memakai label inbox untuk segmentasi kontak, misalnya berdasarkan status membership.

  4. Pengingat berbasis tanggal di Flow Builder. Simpan tanggal perpanjangan atau perkiraan beli ulang sebagai properti kontak, lalu atur Flow Builder untuk berjalan pada tanggal itu. 

  5. Broadcast ke segmen yang opt-in. Kirim pesan massal hanya ke kontak yang sudah memberi persetujuan. Segmen yang tepat membuat pesan terasa relevan, bukan spam.

  6. Analitik. Pantau metrik obrolan dan konversi untuk melihat apakah follow-up berjalan.

Di PajakUMKM.id, bisnis konsultan perpajakan, tim Marketing dan Compliance memakai satu nomor WhatsApp. Tim Marketing menangani broadcast, lalu pertanyaan konsultasi diteruskan ke Compliance.

Dengan SleekFlow, PajakUMKM.id berhasil mencapai operasional 8,5x lebih efektif dan produktif ketika ada kebutuhan broadcast campaign.

Sementara itu, Klinik Alana memakai SleekFlow untuk mengaktifkan digital membership dan mengirim feedback langsung ke klien setelah treatment.

Bagaimana dengan Anda? Jika Anda ingin melihat alurnya langsung dan bagaimana SleekFlow bisa membantu bisnis Anda, jadwalkan demo dengan tim SleekFlow sekarang.

Siap untuk membuat bisnis anda berkembang dan lebih sukses?

Kembangkan bisnis anda lebih baik dan efisien dengan Sleekflow

Bagikan Artikel

Tingkatkan konversi dengan SleekFlow AI

Coba sekarang tanpa biaya!